بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Aku penat dengan pe(rasa)an yang melelahkan. Apalagi jika kamulah penggerak di sebalik setiap alasan. Jika ada yang lain, aku harus sukarela mengundur. Jika tidak ada yang lain, aku diharuskan hadir. Permainan apakah ini? Atau aku yang terlalu bodoh tidak boleh melihat batas harapan dan kenyataan?

Kaki aku berlari menjauhi titik-titik pencipta luka. Tapi, saat aku mulai langkah untuk pergi dari kamu, ada sahaja tarikan ikatan-ikatan melibatkan hati si kecil untuk aku tetap di sana. Pada kehadiran yang berulang, ada kata "selamat tinggal" yang siap-siap kembali tersedia.

Kata "selamat tinggal" yang aku harap tidak pernah lagi aku dengar. Aku ingin kamu tetap di sini, mencipta bahagia dari dua sisi; bukan mencari bahagia kita sendiri-sendiri. Akankah semua ingin aku hanya sanggup menjadi angan? Tidak bolehkah segalanya menjadi kenyataan? Sebab rasa ini nyata, namun kedekatan kita hanya sebatas ini sahaja.

Adakah kamu datang hanya untuk singgah, beri harapan dan lalu pergi?

Pernah; sepasang mata insan kecil dan diri ini mengharap pertemuan dan ingin hulurkan salam. Sebab kebahagiaan terasa utuh dan sederhana kalau kita bertiga bersama. Sebab senyuman tidak sanggup terkata di saat kita berjumpa. Bukan untuk diri ini sahaja, tapi bahagia itu hadir bila anak kecil itu gembira.

Ceritera kehidupan aku, memang aku yang harus selalu rela. Datang dan pergi hanya fitrah percuma dalam ceritera kehidupan manusia. Sederhananya, bahagia aku tetap ada pada kamu. Tapi, seandainya kamu menuju arah yang bukan aku, begitulah bahagia aku akan mula menjauh.

Aku nak minta izin dari kamu, boleh?

Izinkan aku membuktikan bahawa hati ini pun berhak disapa bahagia walaupun sementara. Dengan ramuan rasa sederhana, aku akan membangunkan bahagia aku sendiri dari hibernasi lelahnya kepercayaan hati. Aku menunggu sampai kamu melihat ramuan bahagia aku ini bukan hanya ada di saat diperlukan sahaja, aku menunggu demi insan kecil yang selalu mendengar dan menurut katamu. Entah bila, tapi pasti kita akan bahagia dengan cara pilihan Tuhan. Tapi untuk sekarang, doa aku masih menyelipkan nama kamu sebagai penghantar kebahagiaan; dengan aku atau tanpa aku.

Moga-moga, doa itu sampai kepada kamu.
Moga-moga, kaki ini utuh berdiri untuk melihat insan kecil bahagia.
Berapa lama lagi? Itu hanya tuhan yang izinkan.



Bicara hati dari Monolog Tanpa Suara
buat kamu yang mengerti di luar sana..


2 Comments

  1. rasa bahagia bisa dicipta... walau dari api membara
    rasa bahagia bisa terhapus... walau dari selumbar halus

    ReplyDelete

✿Terima kasih kerana sudi meninggalkan jejak di blog ini✿
✿Sangat dihargai dan insyaAllah kunjungan akan di balas✿
Muacssssssss!!!✿